“Kak
Adel.”
Sesosok
bayangan yang muncul di hadapanku dari balik pohon membuatku terkesiap. Apalagi
setelah ia jelas-jelas memanggil namaku barusan. Setelah kuperhatikan lebih
saksama, ternyata aku mengenal sosok itu. Stella, anak tetangga depan rumahku.
“Stella!
Sedang apa kamu malam-malam di sini?” tanyaku heran. Jalan kampung yang biasa
kulewati menuju rumahku setelah turun dari angkutan umumini sepi dan gelap
tanpa penerangan lampu jalan yang lebih sering mati ketimbang menyalanya. Dan di
dalam angkutan umum, sesaat sebelum turun tadi, aku sempat mengecek jam. Sudah
pukul 9 malam. Mengapa anak seusia Stella masih berkeliaran sendirian di jalan
gelap seperti ini?
“Stella
habis main,” jawabnya sambil tersenyum, manis sekali. Ah, anak tetanggaku ini
memang cantik.Usianya sepuluh tahun, bertubuh montok dengan kulit putih mulus,
mata besar, dan rambut keriting sebahukecokelatan yang menggemaskan. Jika orang
tidak mengenal keluarganya, ia akan dikira keturunan Kaukasia. Padahal, ayah
dan ibunya asli Indonesia: Ambon dan Batak.
“Kok
main sampai malam begini?” tanyaku sambil merangkulnya.
“Habis
Stella kesepian di rumah sendirian. Papa pulangnya kan malam,” jawab Stella
polos.
“Lho,
memangnya Mbak ke mana?” Seingatku, di rumah, Stella tinggal bersama
pembantunya selain dengan ayahnya. Kedua orangtua Stella sudah berpisah—entah
bercerai atau tidak—dan ibu Stella pergi bersama kakak perempuan Stella, Della,
sekitar setahun sebelumnya. Dulu, sebelum kedua orangtua Stella berpisah,
sering terdengar pertengkaran. Teriakan penuh cacian, benda-benda pecah, dan
juga tangisan. Kami, para tetangga, sampai harus memanggil satpam kompleks
untuk mengecek keadaan rumah mereka. Kini tentu rumah mereka kembali damai,
walau harus kehilangan dua penghuninya.
“Mbak
pulang kampung kemarin, Kak. Stella sendirian tunggu Papa,” jawabnya lugu.
“Stella bawa kunci sih, tapi Stella nggak tahu mau ngapain di rumah sendirian.”
Aku
tertegun mendengar jawabannya. “Kamu sendirian di rumah?” tanyaku, dijawab
dengan anggukan Stella.
Malam
itu, aku membawa Stella ke rumahku. Aku dan Mama sepakat mengajaknya makan
malam dan menunggu ayahnya pulang di rumah kami saja. Mama juga berkata pada
Stella bahwa ia bisa datang setiap hari untuk menunggu ayahnya pulang selama
pembantunya belum kembali. Dan, selama lima hari, itulah yang dilakukan Stella.
Ayahnya selalu menjemput kira-kira pukul sebelas malam dan meminta maaf karena
telah merepotkan kami. Tapi tak mengapa, kami tak keberatan selama Stella tidak
kesepian dan aman. Lagipula, Stella anak yang menyenangkan.
******
Dua
bulan kemudian, saat makan malam, Mama bercerita padaku. Ada gosip yang beredar
di antara para tetangga kalau ayah Stella terlilit utang. Sudah dua kali
terlihat beberapa pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam
mengetuk-ngetuk pagar rumah Stella. Bahkan satu kali, mereka juga menanyai Om
Rudi, tetangga sebelah kiri rumah Stella, perihal keberadaan Om Theo, ayah
Stella.
Rumah
Stella kini lebih sering gelap. Sepertinya, pembantu Stella sudah tidak bekerja
di sana lagi. Stella pun jarang kelihatan. Mama, yang biasanya suka melihat
Stella dijemput mobil antar-jemput sekolah setiap pagi, kini tak pernah lagi
melihatnya. Sepertinya Stella dan ayahnya kini sering tidak pulang ke rumah.
Aku
hanya diam menanggapi kabar tersebut. Yah, kuharap mereka baik-baik saja.
******
“Kak
Adel!!” Lagi-lagi suara itu mengagetkanku. Namun, berbekal pengalaman yang
lalu, aku sudah langsung bisa menebak siapa yang memanggilku. Stella.
“Hai,
Stella!” sapaku. Setelah sekian lama tidak melihat Stella, aku cukup terkejut
melihat perubahan yang terjadi pada dirinya. Kini tubuhnya tidak semontok dulu.
Badannya juga lebih tinggi. Mungkin, pubertas mulai mengikis lemak-lemak
bayinya dan mulai membentuk tubuhnya menjadi seorang remaja perempuan menjelang
dewasa.
“Kamu
sedang apa di sini malam-malam begini? Pulang main lagi?” tanyaku.
Stella
menggeleng. Ada kesedihan terlukis di matanya yang bulat itu, walau senyum
tersungging di bibirnya.
“Lho,
terus?”
“Stella
boleh main ke tempat Kakak lagi seperti dulu? Stella kesepian di rumah
sendirian. Kalau boleh, Stella juga tidur di rumah Kakak, ya?” Pertanyaannya
dilontarkan dengan nada agak mendesak. Walau bingung, tentu kuiyakan
permintaannya.
Sama
seperti beberapa bulan lalu, Stella lalu makan malam bersamaku dan Mama. Hanya
kali ini, setelah mandi dan berganti baju di rumahnya, ia tidur bersamaku di
kamarku.
Stella
menginap dua malam di rumahku, sampai kemudian ayahnya menjemput dan
mengajaknya pulang. Setelah itu, aku mendengar ayahnya memarahi Stella.
Suaranya cukup keras sehingga terdengar sampai ke rumahku, walau tidak sampai
tertangkap jelas apa perkataannya. Apa kira-kira yang menjadi sumber
kemarahannya? Apakah ia marah karena Stella menginap di rumahku?
******
Lagi-lagi
Mama bercerita mengenai pertengkaran Stella dan ayahnya. Kali ini, ayah Stella
memaksa Stella pergi bersamanya naik mobil sedangkan Stella berusaha setengah
mati sampai menangis-nangis menolak pergi. Para tetangga hanya bisa menonton
dari rumah masing-masing sambil bertanya, apa gerangan penyebab pertengkaran mereka
kali ini. Kemudian, semua drama berakhir setelah Stella akhirnya masuk ke mobil
dan keduanya pergi.
Sejak
kejadian itu, rumah Stella benar-benar kosong dan tak terurus. Tidak seperti
sebelumnya, di mana terkadang lampu garasi dinyalakan di malam hari, kini rumah
itu selalu gelap. Rumput-rumput dan semak belukar mulai meninggi menutupi rumah
itu.
Ada
pertanyaan menyelip di benakku: Ke manakah Stella pergi? Apakah ia akan baik-baik
saja? Kuharap begitu.
******
Berita
menggemparkan pagi ini: Ditemukan sesosok jenazah anak perempuan dalam keadaan tak
berbusana di dalam karung, hanyut di tepi sungai. Baik berita di televisi
maupun online menjadikannya topik
hangat. Segala perkembangan terkait penemuan jenazah anak perempuan itu
diberitakan dengan cepat.
Aku
sedang refreshing sejenak dari
pekerjaanku yang bertumpuk di kantor dengan menelusuri dunia maya ketika aku
akhirnya iseng membaca berita mengenai penemuan jenazah yang membuat heboh itu.
Serta-merta mataku membelalak.
“Korban
diketahui bernama Stellaria Pattiwael, umur sebelas tahun,” begitu tulisan di
berita yang kubaca.
Stella!
Buru-buru
aku menelepon Mama untuk mengabarkan hal ini. Mama bilang, para tetangga juga
sedang menghebohkan hal itu. Nama Stella memang Stellaria, dan ayahnya memang
bernama Theodorus Pattiwael. Namun, belum ada satu pun yang bisa memastikan
kalau jenazah yang ditemukan di sungai itu adalah Stella tetangga kami.
******
Kasus
penemuan jenazah Stellaria Pattiwael rupanya menarik perhatian publik, bahkan
sampai kepada Menteri dan Presiden, sehingga penyelidikannya berlangsung cepat.
Dan memang, itu Stella tetanggaku. Ayah Stella, di samping dua orang lainnya,
ditangkap sebagai tersangka. Menurut berita yang kubaca, ternyata ayah Stella
menjual Stella untuk melunasi utangnya. Stella lalu kerap mendapatkan pelecehan
seksual sampai akhirnya meninggal dunia akibat penganiayaan berat.
Kenyataan
ini memukulku telak. Aku tak bisa berhenti menangis ketika mengetahui apa yang
terjadi pada Stella. Aku seharusnya bisa menyelamatkannya. Aku seharusnya sadar
kalau selama ini Stella meminta tolong padaku. Namun, aku malah mendiamkannya.
Seandainya aku bisa lebih tanggap...
Rumah
Stella kembali ramai. Kali ini, ibu Stella dan kakaknya, Della, kembali ke
rumah tersebut bersama beberapa kerabat. Mereka menyemayamkan Stella di sana.
Ibu Stella masih dalam keadaan shock
dan menyesali keputusannya meninggalkan Stella bersama ayahnya, namun tante
Stella menceritakan segalanya.
Kedua
orangtua Stella berpisah karena ayah Stella, Om Theo, terjerat utang yang
sangat besar setelah bisnis yang dibangunnya gagal. Tante Miranti, ibu Stella,
kemudian memutuskan untuk meninggalkan Om Theo karena takut dikejar-kejar
penagih utang. Namun, sebelum itu, ia memang sudah berniat bercerai dengan Om
Theo karena temperamen Om Theo dan kebiasaannya main tangan ketika marah.
Ketika akhirnya mereka berpisah, Om Theo meminta Tante Miranti meninggalkan
salah satu anak mereka, dan Tante Miranti memilih meninggalkan Stella karena
Della bertubuh lemah. Siapa sangka, keputusan itu justru berakhir tragis.
“Seandainya
saya bawa Stella juga.” Rintihan lirih Tante Miranti tak berhenti terdengar
ketika aku melayat Stella. Bahkan, sampai aku terbaring di tempat tidurku setiap
malam pun, rintihan penyesalan itu tetap terngiang-ngiang di kepalaku. Air
mataku pun tak bisa berhenti mengalir memikirkan anak itu.
******
Tiga
bulan telah berlalu sejak kematian Stella yang tragis. Rumahnya kini sudah
berpindah tangan ke orang lain. Ibu dan kakak Stella memutuskan menjual rumah
itu karena tidak tahan tinggal di rumah yang penuh kenangan buruk. Mereka lalu tinggal
secara permanen di rumah nenek Stella di Medan, tempat tinggal mereka selama
ini.
Aku
mencoba memaafkan diriku sendiri dan mengikuti nasehat Mama bahwa ini semua
memang sudah digariskan Tuhan, bahwa kita sudah berusaha membantu Stella dengan
cara yang kita bisa namun Tuhan memang berkehendak lain, bahwa Stella kini
sudah tenang dan damai bersamaNya. Namun, terkadang aku masih bisa mengingat percakapanku
dengan Stella di malam ia menginap di kamarku.
“Kak
Adel, papanya Kak Adel sudah meninggal, ya?” tanya Stella.
“Iya,
waktu Kak Adel masih SMA,” jawabku.
“Kak
Adel sedih?”
“Iya
sedih.”
“Stella
juga sedih Mama dan Kak Della ninggalin Stella cuma berdua Papa,” ujar Stella.
“Tapi Kak Adel kelihatannya senang terus tinggal Cuma sama mama Kak Adel berdua?”
“Hmm..
Karena hidup terus berjalan, Stella, dan karena Kak Adel juga sayang mama Kak
Adel. Lagipula, Kak Adel percaya kalau Papa sudah bahagia di surga.” Aku
mencoba menjawab dengan cara sesederhana mungkin agar Stella bisa menangkap
konsep hidup dan mati dengan baik, sesuai usianya.
“Iya
ya. Kalau Stella yang meninggal seperti papa Kak Adel, apa akan ada yang sedih
ya?”
“Lho
kok begitu nanyanya?”
“Papa
pasti sedih ya? Tapi Stella nanti senang di surga.”
Siapa
sangka, obrolan itu kini menjadi kenyataan. Stella, kuharap kau sudah senang di
surga sana.

No comments:
Post a Comment