Friday, January 8, 2016

Stella


“Kak Adel.”
Sesosok bayangan yang muncul di hadapanku dari balik pohon membuatku terkesiap. Apalagi setelah ia jelas-jelas memanggil namaku barusan. Setelah kuperhatikan lebih saksama, ternyata aku mengenal sosok itu. Stella, anak tetangga depan rumahku.
“Stella! Sedang apa kamu malam-malam di sini?” tanyaku heran. Jalan kampung yang biasa kulewati menuju rumahku setelah turun dari angkutan umumini sepi dan gelap tanpa penerangan lampu jalan yang lebih sering mati ketimbang menyalanya. Dan di dalam angkutan umum, sesaat sebelum turun tadi, aku sempat mengecek jam. Sudah pukul 9 malam. Mengapa anak seusia Stella masih berkeliaran sendirian di jalan gelap seperti ini?

“Stella habis main,” jawabnya sambil tersenyum, manis sekali. Ah, anak tetanggaku ini memang cantik.Usianya sepuluh tahun, bertubuh montok dengan kulit putih mulus, mata besar, dan rambut keriting sebahukecokelatan yang menggemaskan. Jika orang tidak mengenal keluarganya, ia akan dikira keturunan Kaukasia. Padahal, ayah dan ibunya asli Indonesia: Ambon dan Batak.
“Kok main sampai malam begini?” tanyaku sambil merangkulnya.
“Habis Stella kesepian di rumah sendirian. Papa pulangnya kan malam,” jawab Stella polos.
“Lho, memangnya Mbak ke mana?” Seingatku, di rumah, Stella tinggal bersama pembantunya selain dengan ayahnya. Kedua orangtua Stella sudah berpisah—entah bercerai atau tidak—dan ibu Stella pergi bersama kakak perempuan Stella, Della, sekitar setahun sebelumnya. Dulu, sebelum kedua orangtua Stella berpisah, sering terdengar pertengkaran. Teriakan penuh cacian, benda-benda pecah, dan juga tangisan. Kami, para tetangga, sampai harus memanggil satpam kompleks untuk mengecek keadaan rumah mereka. Kini tentu rumah mereka kembali damai, walau harus kehilangan dua penghuninya.
“Mbak pulang kampung kemarin, Kak. Stella sendirian tunggu Papa,” jawabnya lugu. “Stella bawa kunci sih, tapi Stella nggak tahu mau ngapain di rumah sendirian.”
Aku tertegun mendengar jawabannya. “Kamu sendirian di rumah?” tanyaku, dijawab dengan anggukan Stella.
Malam itu, aku membawa Stella ke rumahku. Aku dan Mama sepakat mengajaknya makan malam dan menunggu ayahnya pulang di rumah kami saja. Mama juga berkata pada Stella bahwa ia bisa datang setiap hari untuk menunggu ayahnya pulang selama pembantunya belum kembali. Dan, selama lima hari, itulah yang dilakukan Stella. Ayahnya selalu menjemput kira-kira pukul sebelas malam dan meminta maaf karena telah merepotkan kami. Tapi tak mengapa, kami tak keberatan selama Stella tidak kesepian dan aman. Lagipula, Stella anak yang menyenangkan.
******
Dua bulan kemudian, saat makan malam, Mama bercerita padaku. Ada gosip yang beredar di antara para tetangga kalau ayah Stella terlilit utang. Sudah dua kali terlihat beberapa pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam mengetuk-ngetuk pagar rumah Stella. Bahkan satu kali, mereka juga menanyai Om Rudi, tetangga sebelah kiri rumah Stella, perihal keberadaan Om Theo, ayah Stella.
Rumah Stella kini lebih sering gelap. Sepertinya, pembantu Stella sudah tidak bekerja di sana lagi. Stella pun jarang kelihatan. Mama, yang biasanya suka melihat Stella dijemput mobil antar-jemput sekolah setiap pagi, kini tak pernah lagi melihatnya. Sepertinya Stella dan ayahnya kini sering tidak pulang ke rumah.
Aku hanya diam menanggapi kabar tersebut. Yah, kuharap mereka baik-baik saja.
******
“Kak Adel!!” Lagi-lagi suara itu mengagetkanku. Namun, berbekal pengalaman yang lalu, aku sudah langsung bisa menebak siapa yang memanggilku. Stella.
“Hai, Stella!” sapaku. Setelah sekian lama tidak melihat Stella, aku cukup terkejut melihat perubahan yang terjadi pada dirinya. Kini tubuhnya tidak semontok dulu. Badannya juga lebih tinggi. Mungkin, pubertas mulai mengikis lemak-lemak bayinya dan mulai membentuk tubuhnya menjadi seorang remaja perempuan menjelang dewasa.
“Kamu sedang apa di sini malam-malam begini? Pulang main lagi?” tanyaku.
Stella menggeleng. Ada kesedihan terlukis di matanya yang bulat itu, walau senyum tersungging di bibirnya.
“Lho, terus?”
“Stella boleh main ke tempat Kakak lagi seperti dulu? Stella kesepian di rumah sendirian. Kalau boleh, Stella juga tidur di rumah Kakak, ya?” Pertanyaannya dilontarkan dengan nada agak mendesak. Walau bingung, tentu kuiyakan permintaannya.
Sama seperti beberapa bulan lalu, Stella lalu makan malam bersamaku dan Mama. Hanya kali ini, setelah mandi dan berganti baju di rumahnya, ia tidur bersamaku di kamarku.
Stella menginap dua malam di rumahku, sampai kemudian ayahnya menjemput dan mengajaknya pulang. Setelah itu, aku mendengar ayahnya memarahi Stella. Suaranya cukup keras sehingga terdengar sampai ke rumahku, walau tidak sampai tertangkap jelas apa perkataannya. Apa kira-kira yang menjadi sumber kemarahannya? Apakah ia marah karena Stella menginap di rumahku?
******
Lagi-lagi Mama bercerita mengenai pertengkaran Stella dan ayahnya. Kali ini, ayah Stella memaksa Stella pergi bersamanya naik mobil sedangkan Stella berusaha setengah mati sampai menangis-nangis menolak pergi. Para tetangga hanya bisa menonton dari rumah masing-masing sambil bertanya, apa gerangan penyebab pertengkaran mereka kali ini. Kemudian, semua drama berakhir setelah Stella akhirnya masuk ke mobil dan keduanya pergi.
Sejak kejadian itu, rumah Stella benar-benar kosong dan tak terurus. Tidak seperti sebelumnya, di mana terkadang lampu garasi dinyalakan di malam hari, kini rumah itu selalu gelap. Rumput-rumput dan semak belukar mulai meninggi menutupi rumah itu.
Ada pertanyaan menyelip di benakku: Ke manakah Stella pergi? Apakah ia akan baik-baik saja? Kuharap begitu.
******
Berita menggemparkan pagi ini: Ditemukan sesosok jenazah anak perempuan dalam keadaan tak berbusana di dalam karung, hanyut di tepi sungai. Baik berita di televisi maupun online menjadikannya topik hangat. Segala perkembangan terkait penemuan jenazah anak perempuan itu diberitakan dengan cepat.
Aku sedang refreshing sejenak dari pekerjaanku yang bertumpuk di kantor dengan menelusuri dunia maya ketika aku akhirnya iseng membaca berita mengenai penemuan jenazah yang membuat heboh itu. Serta-merta mataku membelalak.
“Korban diketahui bernama Stellaria Pattiwael, umur sebelas tahun,” begitu tulisan di berita yang kubaca.
Stella!
Buru-buru aku menelepon Mama untuk mengabarkan hal ini. Mama bilang, para tetangga juga sedang menghebohkan hal itu. Nama Stella memang Stellaria, dan ayahnya memang bernama Theodorus Pattiwael. Namun, belum ada satu pun yang bisa memastikan kalau jenazah yang ditemukan di sungai itu adalah Stella tetangga kami.
******
Kasus penemuan jenazah Stellaria Pattiwael rupanya menarik perhatian publik, bahkan sampai kepada Menteri dan Presiden, sehingga penyelidikannya berlangsung cepat. Dan memang, itu Stella tetanggaku. Ayah Stella, di samping dua orang lainnya, ditangkap sebagai tersangka. Menurut berita yang kubaca, ternyata ayah Stella menjual Stella untuk melunasi utangnya. Stella lalu kerap mendapatkan pelecehan seksual sampai akhirnya meninggal dunia akibat penganiayaan berat.
Kenyataan ini memukulku telak. Aku tak bisa berhenti menangis ketika mengetahui apa yang terjadi pada Stella. Aku seharusnya bisa menyelamatkannya. Aku seharusnya sadar kalau selama ini Stella meminta tolong padaku. Namun, aku malah mendiamkannya. Seandainya aku bisa lebih tanggap...
Rumah Stella kembali ramai. Kali ini, ibu Stella dan kakaknya, Della, kembali ke rumah tersebut bersama beberapa kerabat. Mereka menyemayamkan Stella di sana. Ibu Stella masih dalam keadaan shock dan menyesali keputusannya meninggalkan Stella bersama ayahnya, namun tante Stella menceritakan segalanya.
Kedua orangtua Stella berpisah karena ayah Stella, Om Theo, terjerat utang yang sangat besar setelah bisnis yang dibangunnya gagal. Tante Miranti, ibu Stella, kemudian memutuskan untuk meninggalkan Om Theo karena takut dikejar-kejar penagih utang. Namun, sebelum itu, ia memang sudah berniat bercerai dengan Om Theo karena temperamen Om Theo dan kebiasaannya main tangan ketika marah. Ketika akhirnya mereka berpisah, Om Theo meminta Tante Miranti meninggalkan salah satu anak mereka, dan Tante Miranti memilih meninggalkan Stella karena Della bertubuh lemah. Siapa sangka, keputusan itu justru berakhir tragis.
“Seandainya saya bawa Stella juga.” Rintihan lirih Tante Miranti tak berhenti terdengar ketika aku melayat Stella. Bahkan, sampai aku terbaring di tempat tidurku setiap malam pun, rintihan penyesalan itu tetap terngiang-ngiang di kepalaku. Air mataku pun tak bisa berhenti mengalir memikirkan anak itu.
******
Tiga bulan telah berlalu sejak kematian Stella yang tragis. Rumahnya kini sudah berpindah tangan ke orang lain. Ibu dan kakak Stella memutuskan menjual rumah itu karena tidak tahan tinggal di rumah yang penuh kenangan buruk. Mereka lalu tinggal secara permanen di rumah nenek Stella di Medan, tempat tinggal mereka selama ini.
Aku mencoba memaafkan diriku sendiri dan mengikuti nasehat Mama bahwa ini semua memang sudah digariskan Tuhan, bahwa kita sudah berusaha membantu Stella dengan cara yang kita bisa namun Tuhan memang berkehendak lain, bahwa Stella kini sudah tenang dan damai bersamaNya. Namun, terkadang aku masih bisa mengingat percakapanku dengan Stella di malam ia menginap di kamarku.
“Kak Adel, papanya Kak Adel sudah meninggal, ya?” tanya Stella.
“Iya, waktu Kak Adel masih SMA,” jawabku.
“Kak Adel sedih?”
“Iya sedih.”
“Stella juga sedih Mama dan Kak Della ninggalin Stella cuma berdua Papa,” ujar Stella. “Tapi Kak Adel kelihatannya senang terus tinggal Cuma sama mama Kak Adel berdua?
“Hmm.. Karena hidup terus berjalan, Stella, dan karena Kak Adel juga sayang mama Kak Adel. Lagipula, Kak Adel percaya kalau Papa sudah bahagia di surga.” Aku mencoba menjawab dengan cara sesederhana mungkin agar Stella bisa menangkap konsep hidup dan mati dengan baik, sesuai usianya.
“Iya ya. Kalau Stella yang meninggal seperti papa Kak Adel, apa akan ada yang sedih ya?”
“Lho kok begitu nanyanya?”
“Papa pasti sedih ya? Tapi Stella nanti senang di surga.”
Siapa sangka, obrolan itu kini menjadi kenyataan. Stella, kuharap kau sudah senang di surga sana.

No comments:

Post a Comment